Jumat, 07 November 2014

Man Jadda Wajada


Sudah taukah arti dari kalimat diatas? Kalimat yang artinya "Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil" ini jadi sangat populer di Indonesia setelah ada film "Negeri 5 Menara". Film yang lumayan populer di tahun 2012. Diangkat dari novel best seller karangan Ahmad Fuadi film ini menceritakan kehidupan santri di pondok Gontor.

Jujur, saya belum pernah menyaksikan film ini. Baik itu di bioskop, dvd, atau di televisi (apakah sudah pernah tayang di tv?). Pikir saya, film ini pasti modelnya mirip sama film laskar pelangi, yang berkisah tentang beberapa anak dengan keterbatasan masing-masing tapi dengan kegigihan akhirnya mereka bisa sukses ketika besar. Ah, basilah. Bosan, pikir saya.

Meskipun dari awal nggak cukup tertarik dengan film ini, sebagai produser acara film di radio tempat saya bekerja, saya berkesempatan untuk bertemu dengan para pemain film "Negeri 5 Menara". Dalam kesempatan itu, saya bertemu dengan Gazza, pemain utama yang berperan sebagai Alif, dan David Chalik, sebagai ayah Alif. Tidak seperti biasanya yang proses wawancara dilakukan live di studio radio kami, kali ini karena padatnya schedule mereka, akhirnya saya lah yang datang ke tempat mereka. Waktu itu mereka sedang ada acara di City of Tommorrow, Surabaya. Ketika datang disana, ternyata juga tidak banyak media yang datang. Dan memang, yang diundang oleh panitia hanya saya dan satu lagi dari media cetak. Alasannya, seperti yang saya sebut tadi, karena schedule yang padat. Mereka tidak berlama-lama di Surabaya, datang untuk beberapa jam dan langsung pergi ke kota lainnya.


Setelah bertemu dengan para pemain film "Negeri 5 Menara", mewawancara mereka, membuat sinopsis, mengemas informasi yang saya dapat semenarik mungkin, dan menayangkan di radio, tetap saya masih nggak tertarik untuk menonton film ini. Bukan hanya filmnya, novel yang diangkat dari film ini pun tidak saya baca, meskipun saya punya. Alasannya, seperti yang sudah saya jelaskan diawal, ceritanya pasti basi. 

Namun belakangan ini (setelah 2 tahun berlalu), ketika saya kehabisan stok buku baru dan belum berencana belanja buku, akhirnya saya pasrah mulai membuka novel ini. Lembar perlembar saya "lahap" cerita dalam novel ini, dan ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, novel ini tidak membosankan. Semakin ke bagian tengah cerita, novel ini sangat menarik. Detil peristiwa yang menunjukkan kegigihan para santri dalam bertahan, berjuang dan menghadapi masalah selama di pondok Gontor diceritakan dengan sangat apik. Membaca buku ini, membuat para pembaca tersihir untuk ikut punya semangat juang yang tinggi seperti yang dilakukan para sahibul menara, sebutan untuk Alif dan ke 5 lima temannya. 

Dari membaca buku inilah, akhirnya saya bukan hanya tau arti kalimat "Man Jadda Wajada" tapi sangat memahami maknanya. "Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil", memang terdengar klise. Tapi cobalah luangkan waktu untuk membaca buku ini, kalimat ini bisa menyihir kita apa makna dari bersungguh-sungguh. 

Bersungguh-sungguhlah, 
berbuat lebihlah,
berdoa lebihlah, 
untuk kehidupan yang sukses dan lebih baik. 

Man jadda wajada.

Minggu, 14 September 2014

Yuk, Bersih-Bersih Sepatu Suede

Punya sepatu berbahan suede jelas nggak bisa sembarangan, baik itu pemakaiannya sampai cara merawat atau membersihkannya. Kalau nggak telaten amat dan suka sembarangan, mendingan jangan pake sepatu suede deh, hehehe. Sayang soalnya, apalagi sepatu berbahan suede rata-rata nggak bisa dibilang murah.

Saya, awalnya juga begitu. Suka sih sama sepatu berbahan suede, tapi malas merawatnya dan pakainya ngasal aja gitu. Misalnya nih, udah tau musim hujan masih aja nekat pakai sepatu suede. Akhirnya, bukan hanya kena air hujan tapi juga kena cipratan becek. Trus juga ada kejadian lagi, nggak ngerti itu sepatu kena noda apa, pokonya lengket banget. Kayak semacam getah gitu. Wah, bingung deh mau ngebersihinnya gimana. Pas googling, banyak informasi tentang bagaimana cara membersihkan sepatu berbahan suede. Tapi kok, ribet yah. Masih harus beli lotionnya dan sikat khususnya. Sementara, saya sudah terburu-buru mau pake sepatu itu.

Dengan sok punya ide cemerlang, bagian yang terkena noda di sepatu suede itu, saya gosok dengan kain lembut yang dibasahin air. Awalnya, gosok pelan-pelan. Kemudian, gosok lebih keras sedikit. Eeh, nggak ilang-ilang juga itu noda. Karena dah kadung gemes, saya ambil rinso cair deh. Seperti iklannya di tipi-tipi, rinso cair ditetesin ke noda yang membandel, tunggu beberapa menit, trus kucek. Nah, saya juga memperlakukan hal yang sama pada sepatu saya, cuma bedanya bukan dikucek tapi digosok.

Dan tarrraaaa.... noda membandelnya hilang. Benar-benar ajaib. Hehehe. Setelah proses pembersihan itu, sepatu diangin-anginkan biar kering. Begitu kering dan siap mau dipakai... kok??? 

Kok kayak ada yang aneh di sepatu saya. Tepatnya di bagian yang terkena noda tadi. Nodanya sih hilang, tapi kok kulit sepatunya warnyanya jadi berbeda :'(

Ough.... Tidaaaaaakkk.

Hiks. 

Oh My God. Niat hati mau ngilangin noda, malah ngerusak tampilan sepatu. Hiks. Ah, sudahlah. Tiada guna menyesal. Dan gara-gara ini saya langsung nurut sama tips-tips yang saya baca via google tadi. 

Beberapa hari kemudian, saya pergi untuk "ngubek-ngubek" mall, nyari lotion dan sikat khusus sapatu suede. Akhirnya setelah berkeliling dari satu toko ke toko lain, ketemulah sama barang incaran di Ace Hardware. Yaaaay ;D


Sebelum menggunakannya, sebaiknya baca dulu cara pemakaiannya. Nih, saya share bagaimana cara pemakaian kedua produk pembersih sepatu berbahan suede ini ^.^

***

SUEDE LOTION


Terdiri dari satu botol lotion berbentuk cair dengan netto 75 ml dan satu sponge mungil.

Kegunaan: 
  1.  Membersihkan sekaligus menjaga keindahan sepatu berbahan suede dan nubuck,
  2.  Mampu mengangkat kotoran dan noda yang menempel pada sepatu suede dengan sempurna. 
Perhatian:
Disarankan mencoba sedikit dulu, karena ada beberapa kulit suede warnanya dapat luntur.

Cara pakai:
  • Tuangkan cairan pada sponge yang tersedia, kemudian oleskan pada bagian permukaan sepatu yang kotor, sikat searah pada bagian yang ingin dibersihkan secara perlahan dan berulang. 
  • Dengan menggunakan sikat, kotoran berminyak dan kotoran lain yang melekat membandel pada permukaan kulit dapat dibersihkan. Selanjutnya, lap permukaan yang dibersihkan dengan kain bersih.
  • Setelah kering, sikat permukaan sepatu dengan Cololite Suede Sponge Brush, agar sepatu suede Anda kelihatan segar kembali.

SUEDE SPONGE BRUSH


Suede Sponge Brush ini gunanya untuk merawat produk kulit jenis Suede atau Nubuck.

Orange part: 
Untuk membersihkan kotoran membandel yang melekat pada permukaan kulit suede atau nubuck, dengan cara menggosoknya berulang kali.
Perhatian: karena bahan orange terbuat dari karet murni, pada saat penyimpanan hindari terkena sinar matahari langsung.

Yellow part:
Berguna untuk menyikat permukaan kulit agar bulu suede atau nubuck segar kembali, dan harus dilakukan pada saat kulit dalam kondisi kering, setelah dibersihkan dengan Cololite Suede Lotion.

***
Baiklah, kita lihat bersama. Apakah sepatu suede saya yang kotor akan bersih setelah menggunakan kedua alat pembersih ini?


Dan hasilnya, tarrraaaa....
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Sepatu yang awalnya kotor dan kusam kini menjadi bersih, mulus, dan merona. Eeeaaa, kayak wajah aja, hihihi. Sangat tampak sekali perbedaannya...


Asoiii juga produk pembersih ini. Sekarang, jadi rajin bersih-bersih sepatu deh ;D
Nggak nyesel punya pembersih ini, meskipun diawal-awal agak kaget lihat harganya yang lumayan mahal. Tapi kan, dari pada sepatu saya jadi butut gara-gara salah cara merawat atau membersihkannya ya mending beli pembersih ini.

Setelah ini, kayaknya pengen koleksi sepatu suede deh. Dan semoga kerjaan saya nggak berakhir hanya di bersih-bersih sepatu mulu ;D

Minggu, 27 Juli 2014

Ada Cerita di Suroboyo Carnival


(Jum'at sore, 25 Juli 2014)

Tergopoh-gopoh, seperti biasa, itulah saya kalau mau ada janji ketemu. Apalagi waktu itu sempet galau mau jadi datang apa nggak. Mau datang, males perjalananya yang jauh. Kalau nggak datang, hmmm... nggak enak juga, sudah janjian kok malah nggak datang. Apalagi teman saya ini adalah orang Jakarta yang tentu saja nggak bisa kapan saja bisa ketemuan dengan saya yang ada di Surabaya. 

Efek dari banyak pikiran itulah yang bikin saya lelet bersiap-siap, tapi kalau waktu dah mepet langsung deh kayak kuda lumping, jingkrak-jingkrak nggak jelas, lari sana, lari sini, tubruk ini, tubruk itu, tapi untunglah nggak pake adegan makan beling, hahaha. 

Sempat terpikir mau hubungi teman saya itu untuk mengajaknya ketemu di tengah kota saja, supaya perjalanan tidak terlalu jauh. Tapi, kayaknya teman saya ingin menunjukkan sesuatu di tempat kerjanya. Sesuatu yang menurut dia menarik. Masih belum terpikir sih sebenarnya semenarik apa tempat yang ingin diperlihatkan, karena jujur membayangkan perjalanannya saja yang ada dikepala adalah rasa malas, apalagi puasa-puasa seperti ini. Tapi baiklah, apa boleh buat, saya sudah janji mau kesana.

"Naik taksi saja biar nggak capek", kata teman via bbm. Hmmm, ide bagus. Untungnya juga selama perjalanan lalu lintas nggak terlalu macet, padahal biasanya macet. Syukurlah ;)

Perjalanan hampir 1 jam berlalu, sudah mau nyampai ke tempat tujuan. Supir taksi sempat bingung dan bertanya-tanya pada orang disekitar tempat yang kami tuju itu. Wajar juga si pak supir nggak tau, karena memang tempat ini baru dibangun, bahkan belum dibuka untuk umum. Pintu masuk utama masih ditutup, jadinya kami harus masuk pintu samping. Begitu memasuki pintu samping, sudah terlihat mesin-mesin katrol yang tinggi menjulang. Banyak pekerja yang sedang disibukkan dengan proses pembangunan tempat ini. 

Supir taksi terus membawa kami menuju entrance yang ada tenda sirkusnya (sesuai petunjuk teman kepada saya). Begitu sudah sampai di entrance itu, ternyata dia sudah berdiri disana, siap menyambut kedatangan saya, hehehe. Antusias sekali rasanya bisa ketemu teman saya yang satu ini. Empat atau tiga tahun yang lalu kami cukup berteman dekat, meskipun setelah itu kami jarang berkomunikasi lagi karena kesibukan masing-masing.

Turun dari taksi, ber-say hi dan bersalaman, kami lantas menuju pintu masuk. Sesekali kami harus berhenti karena dia sepertinya sedang mengintruksikan sesuatu pada pekerja yang ada disana. Entahlah apa itu, yang jelas kemudian saya cari tempat untuk ngadem, menunggu dia sambil menikmati dekorasi meriah yang sudah hampir jadi. Terpampang jelas logo berwarna-warni dan bertuliskan SUROBOYO CARNIVAL NIGHT MARKET.

Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di dalam. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mulai dari yang terdekat dengan pintu masuk, yaitu area "perkampungan", ada kampung kolonial, ada kampung Timur Tengah, kampung Cina, dsb. Berjajar-jajar stan (yang siap dipakai oleh para penyewa untuk berjualan) dengan gaya dan dekorasi yang sangat khas sesuai dengan nama kampungnya. 

Semua stan market masih kosong, belum ada yang berjualan. Beberapa tempat juga masih berantakan. Benar saja, memang saat saya berkunjung, tempat ini masih 98% jadi. Tapi ini menyenangkan buat saya, karena tempat ini belum dibuka untuk umum, masih sepi, hanya ada pekerja yang sibuk berbenah karena beberapa hari lagi sudah akan opening. Karena masih sepi dan belum ada pengunjung jadinya serasa tempat wisata ini hanya milik saya saja, hahaha.

Saat berjalan-jalan menulusuri area perkampungan itu, tanpa malu-malu saya minta difoto saat ada dekorasi yang menarik dan unik, hehehe.

  
Puas berjalan dari satu "kampung" menuju "kampung" lain, kami berjalan menuju ke area bermain/wahana. Banyak sekali wahana yang ada di tempat ini, ada lebih dari 50 wahana. Nama wahananya juga unik-unik karena sebagian besar berbahasa Suroboyoan. Apa saja sih wahana yang ada di tempat ini? Ada Kocar-kacir, Sepoor Sirkus, Arena Dolanan, Uber-Uberan/Kejar-kejaran, Perang Laser, Munyer Serr, Bledek Coaster, Rumah Kinclong, Gondal-Gandul, Motor Edan, Omah Mumet, Beskop 360 derajat, E-bike, Komedi Putar Carousel, Avatar, Cinema 4D, Keliling Angkasa, Roda Gila, Orbiter, Blue Shake, Tambang Mas Coaster, Pirate Ghostship, Lampion KBS, Go Kart, Ferrish Wheel, Art & Wax Museum, Kids Kingdom, Cafe, Nyam-Nyam, Gurbernuran Dine & Show, Galeri Suroboyo, Food Carnival dan masih banyak yang lainnya. Wooow... saya benar-benar takjub, akhirnya Surabaya punya wahana-wahana super keren seperti ini ;D

Beberapa wahana sempat saya ambil gambarnya dengan menggunakan kamera ipad mini. Seperti dibawah ini hasilnya...











Menarik bukan?!

Yang ada di Surabaya dan sekitarnya nggak perlu jauh-jauh kalau mau cari hiburan semacam ini. Surabaya Carnival Night Market adalah tempat wisata yang menggabungkan area belanja dengan wahana hiburan di tempat terbuka. Lokasinya ada di di Jl. Ahmad Yani No. 333, Waru-Surabaya. Akan dibuka pertama kali pada hari Senin, 28 Juli 2014 mulai pukul 4 sore sampai tengah malam. Karena bertepatan di Hari Raya Idul Fitri, jadi sehabis bersilaturahmi, sore atau malam harinya bisa rame-rame kesini ;D


Setelah foto-foto di Suroboyo Carnival, kayaknya nggak lengkap kalau nggak langsung update foto di media sosial. Diluar dugaan, ternyata banyak sekali teman-teman yang antusias, kasih komen, kirim message, bbm, untuk bertanya-tanya tentang Suroboyo Carnival. Dan kejadian itu berlangsung berhari-hari! Ada yang tanya alamat lengkapnya dimana, tanya harga tiket masuk, wahananya apa saja, bahkan beberapa dari mereka tanya seputar sewa stan disana (yang terakhir ini jelas saya nggak bisa jawab, aku ga eroh, rek), hehehe. Kalau ada pertanyaan yang nggak bisa saya jawab, saya menyarankan mereka ngecek via website di www.suroboyocarnival.com ;)

Setelah mengelilingi berbagai wahana di Suroboyo Carnival, saya dan teman istirahat di area foodcourt. Sambil menunggu lampu-lampu berwarna-warni menyala, teman saya menunjuk pada beberapa balon besar yang lokasinya agak jauh dari tempat kami. Dia bilang, "kamu tau, kalau balon-balon itu lampunya nyala, bagus banget". Saya menoleh ke balon yang dia maksud. Dan saat itu juga, balon-balon yang awalnya belum nyala mulai menyala satu persatu dengan lampu yang berwarna-warni. Bagus, indah. Tapi sempat kaget, dan kemudian tertawa. Bagaimana mungkin lampu-lampu itu kebetulan langsung menyala setelah ditunjuk oleh teman saya. Ataukah dia bawa remote khusus?! Hahaha ;D

Tidak lama kami ngobrol, tiba-tiba lewat seorang pria, yang teman saya ingin memperkenalkan saya padanya. Beliau adalah owner dari tempat wisata ini. Bergabung di meja kami (yang kemudian juga disusul satu teman lain yang bekerja di tempat ini) kami ngobrol beberapa hal sambil menikmati sore yang semakin pekat. Lampu-lampu semakin banyak yang mulai menyala, berwarna-warni, angin semakin terasa sepoi-sepoi, dan udara semakin sejuk. Sesekali kami mendengar teriakan girang dari para pekerja yang sedang mencoba wahana yang menguji nyali. Gelak tawa mereka mencuri perhatian kami. Kami menoleh ke arah mereka, namun sesaat saya mengalihkan perhatian ke orang-orang yang duduk semeja bersama saya. Si bapak owner, teman saya, dan satu teman baru yang ikut bergabung tadi, mereka-mereka ini yang menciptakan tempat wisata ini, kompak menunjukkan ekspresi senyum puas melihat kebahagiaan orang-orang yang mencoba wahana itu. Tiba-tiba, saya jadi menyadari sesuatu. Sebagai seorang penyiar radio, saya merasakan hal yang sama. Pasti merasa happy kalau pendengar bisa senang mendengarkan siaran kami, memuji lagu-lagu yang kami putar, antusias dengan informasi yang kami bagikan. Membuat orang lain bahagia sepertinya adalah tanda keberhasilan kita dalam bekerja atau menciptakan sesuatu, begitu bukan?

Well... teringat akan pendengar, saya ingat, saya harus segera beranjak dari tempat itu. Waktu sudah menunjukkan jam 6 petang. Harus cepat-cepat pergi untuk menuju tempat kerja, mau siaran. Pamit dan say goodbye kepada si bapak owner dan satu teman baru itu. Sementara, teman saya ikut mengantar sampai saya mendapatkan taksi. Menuju pintu keluar, masih menyempatkan diri untuk foto-fotoan, hehehe.


Senang sekali rasanya menikmati sore itu di Suroboyo Carnival. Nggak nyangka kalau ternyata undangan teman untuk datang ke tempat kerjanya mengasikkan. Padahal, seperti saya ceritakan di awal, saya sempat malas mau pergi menuju tempat ini, hehehe. Satu pelajaran lagi tentang kebahagiaan, lawan rasa malas untuk mendapatkan kebahagiaan, malas nggak akan membawa kita kemana-mana. Waduuuh, tulisan kali ini kok jadi banyak kata-kata bijaknya yah, hahaha. Apakah karena tulisan ini dibuat pas Hari Raya Idul Fitri?! Hehehe.

Tidak lupa saya ingin mengucapkan...


Mari kembali suci, saling bermaaf-maafan, ikhlas saling mencintai dan membahagiakan orang lain. Semoga Allah selalu memberkahi kita semua. Amin.

Terima kasih sudah membaca tulisan ini ^_^

Sabtu, 10 Mei 2014

Nggak Sempat Liburan, Ke Spa Ajaah!


I'm back!

Ya ampuun, lama sekali saya nggak update blog. Seperti biasa alasannya selalu karena sibuk, sibuk dan sibuk. Mulai dari sibuk siaran yang akhir-akhir ini nge-full 6 jam tiap hari, sibuk ketemu klien, sibuk dateng ke berbagai press conference, sibuk hang out sama temen, sampe sibuk jadi konsultan buat orang-orang yang lagi galau. Hehehe.

Karena kesibukan-kesibukan itulah, jangankan buat nulis blog, buat nafas aja susah (waduh sok gawat nih). Nggak kok, nggak sampai segawat itu memang, cuma harus diakui gara-gara kesibukan yang never ending story itu saya jadi lumayan stres, jadi cepet emosi, kepala dikit-dikit pusing, badan pegal-pegal, dan susah tidur. Inginnya liburan, pergi ke suatu tempat yang udaranya lebih bersih dari pada udara kota, atau mungkin pergi ke pantai yang indah. Tapi cita-cita saya ini sepertinya harus disimpan dulu. Karena, selain terkendala budget, teman berlibur yang juga masih sibuk, dan sudah pasti saya nggak akan mau juga liburan yang lokasinya dekat-dekat dengan kota saya, Surabaya. Inginnya yang jauuuh sekalian, kan mumpung liburan. Tapi kalau liburan jauh juga mana mungkin, banyak menyita waktu padahal saya juga masih banyak kerjaan yang harus segera ditangani. Akhirnya, karena ribet nggak mungkin bisa liburan dalam waktu dekat, saya siasati saja untuk pergi ke spa. Sudah lama nggak massage, udah lama juga nggak melakukan perawatan.

Mau spa mana yah? Ini juga sempat bikin saya bingung. Mau ke Kayu Manis Spa yang ada di jalan R.A Kartini atau ke Herbs Spa yang ada di jalan Prapanca. Akhirnya, pilihan jatuh pada Herbs Spa. Mengapa saya pilih Herbs Spa? Mungkin terpengaruh dengan taglinenya kali ya, "House of Relax & Spa". Kata "rilex" ini sepertinya bisa menyihir siapapun yang lagi dalam keadaan darurat stresnya, hehehe.

Herbs Spa


Tampak dari depan Herbs Spa sangat asri bukan? Dengan bangunan kolonialnya, spa ini menjadi unik. Begitu melewati pintu masuk, kita akan menemukan lobi dengan kursi-kursi kayu yang dilapisi dengan bantalan kasur. Tidak jauh dari sana, ada meja receptionist yang siap melayani para pengunjung. Setelah melihat-lihat "buku menu", saya memilih Spa Pearl Glow Series. Kata si mbaknya ini adalah perawatan yang paling banyak disukai pengunjung. 

Seperti apa sih Spa Pearl Glow Series itu?

Spa Pearl Glow Series adalah rangkaian perawatan whitening, yang scrub dan maskernya mengandung seed butter, shea butter, VCO, Vit. E & licorice. Fungsinya untuk memutihkan, melembabkan, menghaluskan dan juga memberikan efek relaksasi pada kulit. Setidaknya, itulah yang ditulis di "buku menu" mereka, hehehe. Dan bagaimana hasilnya? 

Oke, sebelum saya cerita hasilnya, saya pengen berbagi dulu tahapan spa pearl glow series ini. Jadi, setelah kita diminta untuk mengganti pakaian, kita akan masuk ruangan. Disana ada satu bed buat massage dan ada bathtub untuk berendam. Satu jam kita akan di massage oleh si mbak terapis. Setelah itu adalah proses scrubbing untuk mengangkat sel-sel kulit mati. Kemudian dilanjut masker ke seluruh badan, yang fungsinya untuk mengencangkan dan mencerahkan kulit. Nah, saat di masker inilah tubuh kita juga sekaligus akan di steam. Ada dua macam steam di spa ini, steam badan dan steam blanket. Untuk perawatan yang saya lakukan adalah steam blanket. Tubuh kita akan dibungkus berlapis-lapis, mulai dari plastik yang nempel di tubuh, kemudian selimut kain super tebal, dan bagian yang terluar adalah selimut yang pake dicolokin ke listrik gitu (itu namanya apa ya?). Selama kira-kira 20 menit disteam blanket, sukses bikin tubuh saya gobyooos alias banjir sama keringat, hehehe. Oh iya, pas di steam ini, saya juga nambah treatment totok aura wajah. Gara-gara dirayu ama terapisnya, akhirnya luluh juga pengen nyoba ;)

Totok aura wajah kelar, steam blanketnya juga dilepas satu per satu. Kemudian, saya berendam dengan bath milk sambil membersihkan sisa-sisa masker di tubuh dengan menggunakan shower puff dan sabun cair yang sudah disediakan disana. 

Overall, treatment spa dan totok aura wajah bener-bener bikin saya feelin' so energized. Nggak melebih-lebihkan loh. Yang awalnya cuapek berat, pegel-pegel, tapi setelah di spa, badan nggak capek lagi, yang pegel-pegel juga hilang, dan begitu liat kulit tubuh kok kulit saya buersih banget yak, hehehe. Totok aura wajah pun, awalnya pesimis tentang manfaatnya, tapi ternyata saat ditotok, oouugh.... sepertinya mbak terapisnya sangat tau titik wajah saya yang kaku dan butuh pertolongan. Setelah ditotok, wajah rasanya lebih segar, lebih kencang, pusing-pusing yang sering saya alami hilang entah kemana, dan pandangan mata yang akhir-akhir ini sering kabur, setelah ditotok aura wajah jadi cerah. 

Kalau beristirahat saja belum bisa bikin kita tenang, lelah nggak ilang-ilang, liburan juga belum sempat, sepertinya melakukan treatment di spa bisa jadi pilihan yang tepat. Nah, untuk Anda yang pengen kabur ke spa untuk me-recharge energi, saya kasih bocoran nih perawatan apa saja yang ada di Herbs Spa. Ada treatment spa apa saja sih di tempat ini?





  1. Totok Aura Wajah, Rp 70.000,00
  2. Body Massage (1 jam), Rp 100.000,00
  3. Spa Osiris, Rp 135.000,00
  4. Spa Susu, Rp 135.000,00
  5. Spa Susu Hosepsuth, Rp 165.000,00
  6. Spa Yoghurt, Rp 190.000,00
  7. Spa Lumpur, Rp 190.000,00
  8. Spa Cleopatra, Rp 210.000,00
  9. Spa Coklat, Rp 190.000,00
  10. Spa Coffe 190.000,00
  11. Spa Green Tea, Rp 190.000,00
  12. Spa Strawberry, Rp 190.000,00
  13. Spa Pearl Glow Series, Rp 250.000,00
  14. Bust Treatment, Rp 90.000,00
  15. Ratus/ Intimacy Care, Rp 70.000,00
Masih banyak perawatan lain loh selain yang diatas, misalnya saja creambath, hair spa/mask, facial, eye treatment, waxing, manicure & pedicure. Mengenai harga, jangan lupa yah kalau harga bisa berubah sewaktu-waktu, jadi sebaiknya hubungi saja Herbs Spa di nomer 031-5674459. Atau datang langsung ke Jl. Prapanca no. 56, Surabaya. Selasa sampai Jum'at buka dari pukul 10.00 sampai 19.00. Sabtu & Minggu buka dari pukul 09.00 sampai 18.00.

Ayoo... yang sudah stres, badannya pegel-pegel, dan yang udah lama nggak peduli pada kebersihan dan kecantikan diri, langsung kabur aja ke spa. Sempatkan waktu untuk melakukan treatment. Juga sisihkan gaji kita untuk budget spa. Kalau menurut saya sih, harga treatment di Herbs Spa lumayan lebih ramah di kantong. Tapi, kalau mau lebih murah lagi caranya bisa banget. Sebelum datang ke spa, coba aja datang ke RT/RW dulu, minta surat keterangan miskin, bilang sama RT/RW kalau kita mau spa tapi nggak punya duit, ahahaha. Just kidding ;D

*Terakhir*

Usai melakukan treatment spa & totok aura wajah yang kira-kira menghabiskan waktu 2 jam, si mbak terapis mempersilahkan saya untuk menikmati secangkir wedang jahe di teras samping. Sambil menyesap wedang jahe hangat, mata saya menikmati pemandangan dedaunan yang basah karena habis turun hujan. Menghirup aroma wangi bunga yang menenangkan. Dan, telinga dimanjakan dengan gemerick air yang beradu dengan senyap-senyap suara gamelan.



Minggu, 16 Maret 2014

Pelatihan Jurnalis VOA

Sore di hari Jum'at tepatnya tanggal 21 Februari 2014, ada satu misscall dari atasan. Wah ada hal penting apa nih, pikir saya. Langsung seketika saya telepon balik beliau. Saat menelpon, begitu hebohnya saya ketika mendengar ada undangan untuk pelatihan jurnalis yang diadakan oleh US Consulate General (konjen AS) & VOA (Voice of America). Senang banget. Sudah terbayang di kepala akan bertemu dengan orang-orang hebat dari VOA (syukur-syukur kalau sekalian diajak ke US buat siaran di VOA, hihihi). Celingak-celinguk kanan kiri, semoga nggak dibaca ama bos ;p

Pelatihan jurnalis ini digelar di 3 kota di Indonesia, yaitu Padang, Surabaya & Malang. Di Surabaya sendiri diadakan pada 06-07 Maret 2014, bertempat di konjen AS, Jalan Citra Raya Niaga No. 2, Surabaya. Tempatnya lumayan jauh dari rumah saya, sempet pake acara nyasar pulak karena baru pertama kali datang ke tempat ini. Tapi untunglah, berkat bantuan security yang ada di jalan Citraland, nggak lama kemudian sampe di tempat tujuan dengan selamat dan ON TIME. Ini yang perlu dicatat, jarang-jarang saya bisa on time, apalagi ini pake acara nyasar pula. Hehehe. Ketauan deh bad habbit nya ;P

Sampai di konjen AS, kami para peserta yang datang langsung registrasi. Peserta yang sudah registrasi akan dibawa masuk, namun sebelumnya harus diperiksa dulu. Baru tau loh, ternyata seketat itu kalau mau masuk Konjen AS. Gadget harus dimatikan dan nggak boleh dibawa masuk kedalam, kecuali kamera dan laptop. Kamera pun masih harus dites, bener nggak tuh fungsinya sebagai kamera. Untuk laptop, wifi nya harus di nonaktifkan. Waktu itu, dari rumah, selain bawa hape, saya juga bawa ipad mini. Meskipun sudah meyakinkan bagian security kalau ipad mini ini adalah laptop dalam versi lain yang lebih mungil, lebih praktis, tetep aja nggak diijinkan untuk dibawa masuk. Hiks. Agak galau juga nggak boleh bawa gadget satu pun, secara pelatihan ini dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Dua hari lagi!

Hmmmm, sebenarnya saya nggak ikut dua hari sih. Memang secara prosedur, jalannya acara dua hari. Tapi di hari pertama, saya dan ada beberapa teman dari media lain tidak diijinkan masuk. Alasannya beda-beda, ada yang telat konfirmasi undangan (seperti saya), dan ada juga yang karena pas konfirmasi ke pihak konjen AS tidak menggunakan nama asli sesuai KTP. Yah, namanya juga orang media, kadang nama kita diubah-ubah, istilah bekennya nama artis lah, hehehe. Jadinya, karena tidak diijinkan masuk ya saya pulang deh. Padahal udah jauh-jauh, berangkat pagi-pagi, nyasar pula. Hiks.

Tapi... ada kabar baiknya, para peserta yang hari pertama tidak diijinkan masuk, di hari kedua boleh mengikuti pelatihan ini. Horrreeee. Keesokan harinya saya datang lagi ke konjen AS. Dengan segala prosedur pemeriksaan, akhirnya bisa masuk ke dalam kelas. Ini pertama kalinya saya mengunjungi konjen AS. Tempatnya luas (itu pasti), setiap pintu masuk selalu ada security nya (tapi model securitynya bukan seperti security biasa), dan setiap pintunya kalau di buka dan dorong lha kok berat banget yah, lumayan bisa mengurangi kalori tubuh secara drastis nih (lebay, hehe). Membayangkan kalau saya kerja disana, bisa-bisa langsing dalam sekejap :D

Masuk di dalam kelas, sudah ada beberapa teman media lain, ada yang dari radio SS, Trijaya, Colors, She, Kompas tv, Jtv dan masih banyak lagi (oh iya, bagi yang mungkin belum tau, saya sendiri dari radio METRO FeMale 88,5 Fm). Back to the Class, sepertinya di hari kedua ini saya terlambat sedikit. Si pengajar sudah mulai menjelaskan beberapa materi. Sebagai pembicara dalam pelatihan ini adalah Inna Dubinsky dari BBG Office of Development & International Media Training. Karena beliau orang bule, tentu saja bahasa pengantar yang dipakai adalah bahasa Inggris. Dan bagi yang kurang begitu mengerti bahasa Inggris, nggak mudeng dengan penjelasan ibu Inna Dubinsky, tenang aja sudah ada penerjemahnya di dalam kelas, yang belakangan baru saya tau kalau mbak penerjemah ini adalah si Mbak Marintan. Ampuun, akhirnya setelah sekian lama hanya "ketemu" via email, sekarang ketemu beneran secara face to face. Mbak Marintan ini adalah Country Respresentative Indonesia dari US International Broadcasting Bureau. Happy banget bisa ketemu langsung sama mbak Marintan. Saat kelas break, kami ngobrol banyak tentang program radio, termasuk program-program menarik dari VOA yang bisa digunakan oleh radio afiliasi.

Inna Dubinsky, Andrew M. Veveiros, Frans Padak Demon

Selain ibu Inna Dubinsky dan mbak Marintan, ada satu lagi pengajar yang bikin saya terpukau dengan pengalaman-pengalamannya selama menjadi wartawan di media-media asing, yaitu Pak Frans Padak Demon. Sebenarnya, saat beliau mulai berdiri di depan kelas, saya nggak tau si pak Frans ini siapa ya. Maklum, seperti yang saya ceritakan diatas, saya baru ikut kelas lanjutan di hari kedua. Jadi sempat miss dalam perkenalan dengan pengajar di hari pertama. Dan belakangan, usai acara, tepatnya keesokan harinya, saya tau dari akun facebook kalau beliau ternyata director at VOA Indonesia. Wow.


Mendengar pengalaman-pengalaman pak Frans, jadi teringat dengan film favorit saya, The Secret Life of Walter Mitty. Kisah yang sangat seru, menantang, hectic, ada setting pesawat, kapal, dan tentu saja si pemeran utama adalah orang media. Bertemu dengan pak Frans rasanya seperti bertemu Walter Mitty dalam versi kisah nyata (maksud saya kesamaan kisah serunya, bukan karakternya. Karena di dalam film, Walter Mitty diceritakan sebagai pengkhayal akut. Saya nggak tau deh karakter pak Frans, penghayal akut apa nggak, hehehe, pisss). Sebagai sama-sama orang media, saya pun juga bercita-cita punya pengalaman menantang dan luar biasa seperti yang dialami oleh Walter Mitty dan pak Frans ;)

Sungguh senang rasanya mengikuti pelatihan jurnalis ini. Ada banyak pelajaran baru, pelajaran yang perlu diingat kembali, dan tentu saja tidak ketinggalan pengalaman-pengalaman seru, baik itu dari para pengajar dan teman-teman peserta pelatihan. Ternyata berkumpul bersama orang-orang dengan profesi dan minat yang sama bisa merefresh pikiran dan membuat kita semakin mencintai pekerjaan kita. 

Terima kasih konjen AS, VOA, & BBG yang sudah menyelenggarakan pelatihan ini. Terima kasih untuk para pengajar, ibu Inna dan pak Frans. Mbak Marintan sebagai penerjemah yang sudah menolong orang-orang kayak saya yang kemampuan bahasa Inggrisnya "little-little sih I can", hehehe. Terima kasih untuk teman-teman peserta yang hadir, yang sudah bikin seru suasana. Terima kasih untuk public affairs officer of US Consulate General, Andrew M. Veveiros. Terima kasih juga saya ucapkan untuk teman-teman dari konjen AS, terutama mbak Yessika yang sudah repot-repot mau mengirimkan materi pelajaran hari pertama ke email saya. Dan tentu saja terima kasih untuk atasan saya yang mengirimkan saya untuk datang ke pelatihan ini. Kalau ada acara seperti ini, mau dong ikutan lagi ;)


Keterangan:

Sumber foto dari akun facebook pak Frans. Terima kasih, Pak Frans ;)

Senin, 10 Februari 2014

BerHelloKitty Ria, yuk!


Siapa yang suka warna pink angkat tangan!
Yang suka Hello Kitty, angkat tangan juga!
Yang suka makan, ayo diangkat tangannya tinggi-tinggi! ;D

Nah, buat yang suka warna pink, hello kitty, dan suka makan juga, kali ini saya pengen share mengenai cafe baru yang berkonsep hello kitty. Cafe yang ada di Ciputra World lt. 3, Surabaya, ini pertama buka kira-kira setahun yang lalu. Menurut si mas marketingnya, Cafe ini hanya ada di Surabaya loh, itu artinya di kota-kota lain di Indonesia belum ada. Nama cafenya adalah PINKITTY. Cafenya cantik banget. Sesuai konsepnya, Hello Kitty, tentu saja kita akan dimanjakan dengan berbagai dekorasi dan pernak-pernik Hello Kitty, seperti kursi, meja, sofa, boneka, sampai hidangannya pun juga dibentuk menyerupai boneka asal Jepang itu. Nah, seru banget kan. Makanya, tempat ini sangat cocok buat yang ngaku cewek banget atau yang suka hello kitty.

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman mengunjungi cafe Pinkitty. Wah, seneng banget deh ada disana, mata kita benar-benar dimanjakan dengan berbagai pernak-pernik hello kitty, kami yang udah berusia 25 tahun ke atas ini berasa balik lagi ke masa kanak-kanak yang bahagia. Nggak hanya dari segi dekorasi, kita pun juga dimajakan dengan berbagai menu yang disediakan. Ada menu apa saja sih di Pinkitty? 

Waffle Hello Kitty Ice Cream

Menu yang satu ini sepertinya menu andalan di cafe ini, waktu saya browsing di google, gambar yang banyak tampil adalah waffel ini. Jadi, karena penasaran waktu itu saya pilih waffel ini deh. Dan benar saja, waktu waffle dihidangkan di meja kami, waaah saya langsung ngiler loh ngeliatnya, hehehe. Secara tampilan sangat menggairahkan. Dan surprise nya, tampilannya berbeda dari buku menu yang kita lihat. Jadi pengunjung yang pesan menu ini nggak akan menduga kalau akan mendapatkan tampilan yang berbeda, namun tentu saja dengan isi yang sama, kalau isinya beda brarti bukan waffle ice cream lagi judulnya, hehehe. Dari segi rasa, menurut saya seperti waffle dan es krim pada umumnya, lumayanlah, enak kok. Untuk yang pengen mencoba menu ini, harganya cuma Rp 36.000,00. Saya katakan "cuma" karena nggak terlalu mahal lah untuk menu yang bentuknya bikin gemes ini. Selain bikin kenyang juga bikin happy melahapnya ;)  

Hot Cappucino

Untuk minumnya, saya pesen hot cappucino. Dengan latte art hello kitty sebenarnya sayang banget kalau mau diminum, pengennya diliatin aja (keburu dingin dong), hehehe. Hot Cappucino ala Pinkitty ini dibandrol dengan harga Rp 32.000,00.

Chicken Sandwich
 
Kalau tadi saya pesen Waffle Hello Kitty Ice Cream dan Hot Cappucino, temen saya pesen Chicken Sandwich dan Rilakkuma Squash. Tapi sayang, Rilakkuma Squash nya kelupaan saya foto, dah buru-buru diminum sama teman saya, hahaha. Untuk harganya, Chicken Sandwich Rp 29.000,00. Sedangkan Rilakkuma Squash Rp 30.000,00.  
    
Menu-menu lainnya



Banyak menu-menu lainnya yang bisa dicoba di cafe ini. Misalnya saja, Hello Kitty Noodle, Fried Rice, Hainan Chicken Teriyaki, Hainan Pecking Duck, BBQ Chicken Pizza, dan masih banyak lagi lainnya.

Nah, gimana? Udah mulai mupeng untuk nyobain Cafe Pinkitty ini? Buruan aja datang ke Ciputra World lt. 3, Surabaya. Lebih seru lagi kalau dateng sama teman, pasangan, anak, keponakan atau siapapun lah. Oh iya, Cafe ini juga bisa dibuat ultah anak lhooo, ada paketannya gitu. Coba saja tanya sama pelayannya, pasti akan diberi brosur paket ultah anak. Kalau saya balik lagi jadi anak kecil pasti happy banget deh bisa ngerayain ultah di tempat ini ;)

Narsis timeee....



Well, itulah review saya tentang cafe Pinkitty. Semoga bermanfaat dan Selamat BerHelloKitty Ria ^,^

Kamis, 30 Januari 2014

Catatan Kisah Pembantaian

The Act of Killing

Beberapa minggu yang lalu saya sempat menyaksikan film dokumenter yang banyak menimbulkan pro dan kontra. Banyak orang luar negeri yang memuji film ini, bahkan film ini menjadi nominasi piala Oscar 2014 untuk kategori Film Dokumenter Terbaik. Di Indonesia sendiri, banyak pihak yang menyayangkan film ini, alasannya pun beragam, misalnya adalah rasa tidak terima, malu pada masyarakat dunia karena film ini menceritakan pembantaian massal di Indonesia di tahun 1960-an. Ya, kali ini saya sangat ingin menulis tentang film Jagal-The Act of Killing, film dokumenter karya sutradara Joshua Oppenheimer.

 
Sebelumnya saya ingin bercerita dulu, ketika saya menyaksikan film ini, kira-kira belum sampai separuh jalan pacar saya telepon. Saya bertanya padanya sudah nonton film The Act of Killing belum. Dia menjawab sudah, hanya diawal saja, tidak sampai habis. Pacar saya menceritakan kekhawatirannya mengenai film ini. Menurutnya, film ini membuka luka lama. Sejarah yang mungkin sebaiknya tidak perlu diungkit-ungkit. "Negara kita sudah damai, kita sudah bersatu, buat apa mengungkit kasus yang bisa menyakitkan bagi beberapa pihak", itu katanya. Ditambah lagi dia banyak menemui komentar dari anak muda yang kaget setelah melihat film itu, dan menyesali mengapa negara kita bisa sesadis ini. Nah, apakah ini kondisi yang sehat membuat penerus bangsa kita menyesali akan sejarah negaranya yang kelam?

Mendengar pendapat itu saya pun mulai mikir. Tetapi saya tidak mau mengambil kesimpulan dulu, karena saya ingin melihat film yang berdurasi dua setengah jam lebih ini sampai selesai dulu. Ditengah-tengah saya melanjutkan untuk menonton film ini, saya pun punya kekhawatiran yang sama seperti yang diungkap pacar saya, apakah film ini tidak bahaya untuk Indonesia? Adegan per adegan menggambarkan kekejian para algojo membantai mereka yang dituduh PKI. Menjadi sangat nyata karena yang beradegan dalam film ini adalah pelaku asli sejarah, salah satunya adalah Anwar Congo. Sebenarnya, saking ngerinya film dokumenter ini, saya pun mulai nggak tahan dan nggak ingin meneruskan film ini, tapi disisi lain ada rasa penasaran bagaimana ending dari film ini.

Ternyata keputusan saya untuk terus menyaksikan sampai habis benar, karena ada banyak yang saya dapatkan dari film ini. Film ini bukan hanya menunjukkan bagaimana para algojo-algojo tersebut membantai para PKI, tapi film ini juga menunjukkan pada kita bagaimana pendapat para algojo tersebut dengan apa yang sudah mereka lakukan. Diawal-awal film memang digambarkan bagaimana mereka menikmati proses pembantaian itu, tapi di akhir-akhir film digambarkan bagaimana menyesalnya mereka dengan apa yang sudah mereka perbuat. Yang lebih penting lagi, ada satu adegan yang dimana adegan ini menjawab diskusi saya dengan pacar (seperti yang saya ceritakan diatas tadi). Suatu adegan dimana sang sutradara sedang melakukan percakapan dengan Adi Zulkardi (teman Anwar Congo, sesama algojo di tahun 1960-an). Menurut saya, percakapan ini patut dipahami dan dimengerti supaya kita tidak salah menyimpulkan film ini. Seperti apa percakapannya? Saya sengaja mencatatnya sendiri demi untuk nulis di blog. Niat banget yah? Hehehe.

Inilah percakapan antara sang Sutradara film, Joshua Oppenheimer, bersama Adi Zulkardi di dalam mobil.

Joshua : J
Adi      : A
J : Bukan maksud saya membuat keadaan tidak nyaman. Tapi saya ingin kembali ke pernyataan Bapak. Dengan alasan perang Bapak tidak dihantui seperti Anwar. Tapi konfrensi Jenewa tetap menganggap yang bapak lakukan sebagai kejahatan berat.
A : Belum tentu tidak sependapat sama pengadilan internasional itu seperti yang saya katakan tadi. Bush waktu kuasa ...(satu kata ini tidak bisa saya tangkap karena nggak jelas)... benar. Saddam Hussein bikin pembunuh massal, senjata pemusnah massal, itu kebenarannya Bush. Kebenaran itu ternyata tidak benar. Jadi itu bisa jadi konvensi Jenewa itu kebenaran waktu sekarang konvensi Jenewa. Besok ada konvensi Jakarta, itu Jenewanya kita buang. Itu definisi-definisi kejahatan perang itu buatan orang yang menang. Saya pemenang. Saya mesti bikin definisi perang. Saya tidak perlu ikut definisi secara internasional.
A :  Dan ada yang lebih penting lagi. Tidak semua kebenaran itu baik. Ada kebenaran yang tidak baik, antara lain kebenaran untuk mengungkit persoalan, biarpun benar sekali persoalan diungkit-ungkit, tapi tetap tidak baik.
J : Tapi, Pak. Bagi jutaan orang yang anggota keluarganya dibunuh, bagi mereka kan kalau kebenaran bisa diungkapkan itu baik.
A : Ya, silahkan. Pembunuhan pertama itu habil dan kabil. Kenapa soal PKI yang dibunuh yang repot?! Orang Amerika bunuh orang Indian, ada nggak yang diadili?! Adili, dong!
A : Saya menganggap kalau cerita lama mau dibongkar-bongkar kembali itu berarti mengajak perang. Kita siap perang. Kalau memang dunia ini mau perang terus-menerus, kita siap. Kalau kita dipaksa untuk perang, kita siap.
Menurut saya percakapan ini adalah percakapan yang penting dalam film ini. Saya menyukai bagian ini, meskipun settingnya hanya di dalam mobil, dalam perjalanan. Disini, saya melihat sosok Adi Zulkardy adalah sosok yang lebih cerdas dalam mengungkapkan pandangan atau pendapatnya. Untuk lebih jelas mengenai film ini, silahkan saja nonton filmnya, klik disini.



Sekian dulu yang ingin saya share mengenai film penuh kontroversi ini. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah. Oh iya, saya juga mohon maaf untuk pembaca tulisan ini, saya mohon untuk tidak berkomentar yang aneh-aneh di kolom komentar yang bisa menimbulkan perdebatan satu sama yang lain, mengingat isi dari film ini sangat sensitif. Tulisan ini saya buat bukan untuk berdiskusi, hanya cerita ringan mengenai pengalaman saya menyaksikan film ini. Karena pelajaran yang pernah saya petik selama ini adalah untuk tidak berdiskusi di tempat dan situasi yang tidak tepat, karena pastinya tidak akan ada habisnya, hehehe.
 

blush ON blush Copyright © 2015 -- Powered by Blogger