Senin, 26 September 2011

Reuni Kecil

Ketemu dengan teman di masa lalu membuat kita menjadi merasa lebih muda. Setidaknya dari pertemuan itu kita serasa kembali di kehidupan masa lalu, mengingat, dan mentertawakan kejadian yang kita lewati. Kita saling menanyakan kabar satu sama lain, menanyakan kabar teman-teman lain yang nggak hadir, bergosip, bercerita tentang pengalaman satu sama lain, dan tertawa nggak habis-habis dengar cerita-cerita lucu yang mereka alami. Di tengah-tengah rutinitas yang padat, yang hanya itu itu saja, pertemuan seperti ini serasa menyegarkan. Tidak hanya itu, kita bisa saling bertukar informasi yang berkaitan dengan pekerjaan, dan saling belajar mengenai profesi yang kami tekuni.    

Saya dan beberapa teman lama ex SMA Negeri 6 Surabaya, berkumpul di Plaza Tunjungan, Minggu siang, 25 September 2011. Kebetulan sekali kita punya waktu luang saat itu. Bayangkan saja, yang hadir dalam pertemuan ini satu diantaranya sudah hijrah ke Bali, jadi ceritanya hari itu dia sedang libur dan balik ke Surabaya. Dua diantaranya, termasuk saya, bukan pekerja yang libur di hari Minggu, kebetulan saja hari Minggu masuk pagi dan pulang siang, jadi begitu selesai kerja langsung cabut ke mall. Sedangkan teman saya yang satunya juga kebetulan libur di hari Minggu, padahal biasanya bukan hari Minggu. Saya nggak nyangka, sudah dewasa seperti ini ternyata selera humor mereka masih tetep sepeti dulu. Apalagi temen saya yang hijrah ke Bali itu, lihat wajahnya saja langsung pengen ngakak. Belum lagi cerita-ceritanya tentang bos-bos bule nya. Wkwkwk. Kalau nulis semua yang kami obrolin waktu itu pasti panjang sekali. Hehe. Langsung aja lihat foto-fotonya yuuukk!!! ^__^  





My O Mine

Dina Diana …



Penyiar radio adalah pekerjaan saya. Kebanggaan saya.  Impian saya semenjak kelas 5 SD. Bagi orang lain mungkin penyiar radio hanyalah sekedar penyiar. Tapi bukan bagi saya, profesi ini melebihi lainnya. Sewaktu kecil saya sering ditanya “mengapa bercita-cita menjadi penyiar radio?”. Saya menggeleng, tidak tau, suka aja. Kini ketika saya sudah dewasa & mimpi itu jadi nyata saya bisa menjawabnya dengan sangat lancar. Saya sangat mencintai profesi ini karena saya suka musik, saya ingin menghibur banyak orang, saya ingin dikenal banyak orang, & yang terpenting dari semua itu, saya suka memberikan informasi. Baik itu berupa news atau tips yang banyak bermanfaat bagi banyak orang. Saya bukan penyiar yang lucu, seperti kebanyakan penyiar radio anak muda. Mungkin itulah mengapa saat ini saya bekerja di radio dewasa yang berkonsep female & family station yang lebih banyak memberikan tips dan news. Sempat sedih memang begitu saya menyadari kalau saya tidak pandai melucu. Takut tidak bisa menghibur para pendengar. Tapi, terkasih saya memberikan semangat “Kamu bisa jadi seperti Oprah Winfrey, dia tidak terkenal karena lucu, tapi karena pintar”, Semenjak itulah percaya diri saya semakin tinggi. Okey okey tentu saja saya tidak sepandai Oprah, tapi paling tidak saya bisa belajar banyak untuk menjadi seperti dia. Bukannya mencoba meniru dia, saya tetap menjadi diri sendiri, tapi tidak ada salahnya kita belajar banyak hal dari orang yang sukses dengan kariernya.

Memasuki tahun ke 4 menjadi seorang penyiar radio di METRO Female 88,5 Surabaya (radio pertama hingga saat ini) saya masih merasa banyak hal yang harus dipelajari. Tidak hanya siaran, selama ini saya mencoba mengeksplorasi pengetahuan musik di era 80-90. Radio tempat saya bekerja memang memutar single-single di era 80-90 sampai era baru 2011. Namun saya sangat tertarik untuk mempelajari dan menemukan single langka era 80-90 yang pernah nge hits tapi terlupakan oleh banyak orang. Saya juga mulai belajar membuat program talkshow dengan tema-tema menarik dan narasumber yang sudah jadi pakarnya. Tidak hanya itu, saya juga penasaran dengan profesi marketing, sedikit demi sedikit saya mencoba belajar membuat kontrak kerjasama antara radio tempat saya bekerja dengan media cetak terbesar di Indonesia. Hasilnya, sukses. Terus berlanjut, saya mencari klien untuk beriklan di radio saya. Dan terima kasih Tuhan, sukses lagi. Tentu saja semua itu harus tetap berjalan. Selama bumi masih berputar, tugas kita adalah selalu berusaha dan belajar banyak hal.  

Kamis, 15 September 2011

9 Summers 10 Autumns, Keajaiban Dari Sebuah Kemiskinan

Pertama kali liat buku ini saat karyawan Gramedia menawarkan novel yang dibawanya. Dia menjelaskan panjang lebar mengenai kisah nyata Iwan Setyawan, anak sopir angkot dari kota batu Malang yang jadi direktur di New York City. Saya tidak terlalu fokus dengan apa yang dia jelaskan karena saya sedikit bingung, koq tumben ada pegawai Gramedia yang mempromosikan buku dengan cara seperti ini. Okey, mungkin ini "gaya" baru, pikir saya. Karena saya sedikit aneh dengan kejadian itu, akhirnya saya tidak begitu berminat untuk membeli novel itu. Sepulang dari Gramedia saya menceritakan pada sahabat kejadian yang saya anggap aneh di toko buku itu tadi. Saya juga menanyakan apakah dia pernah dengar judul novel yang ditawarkan karyawan Gramedia itu tadi. Ternyata dia tau, dan dia sangat merekomendasikan buku itu. Dia belum baca, hanya saja dia pernah melihat si penulis novel 9 Summers 10 Autumns ini pernah diundang diacara Kick Andy. Mulailah dia menceritakan secara singkat perjalanan si penulis, Iwan Setyawan. Mendengar sahabat saya bercerita ini saya jadi tertarik, keesokan harinya saya kembali ke Gramedia mencari buku itu. Sempet tanya ke karyawan yang ada disana, dan ternyata kebetulan dia sedang pegang novel itu. Dia memberikan novel itu pada saya, tapi juga menempelkan sticker dengan nama seseorang di novel itu. Begitu saya tanya untuk apa sticker itu, dia hanya bilang "gapapa koq, mbak". Hmmm... mungkin ini nama dia, mungkin buku ini sedang pasang target penjualan atau apalah yang membuat mereka akan dapat bonus kalau laku. Tapi entahlah, saya cuma menebak. Sampai rumah tanpa harus menunggu saya langsung baca buku itu. 
Inilah ulasan dari saya,

9 Summers 10 Autumns, Dari Kota Apel ke The Big Apple 
by Iwan Setyawan


Novel national best seller ini adalah novel kisah nyata. Ditulis oleh seorang anak sopir angkot di kota Batu yang akhirnya sukses menjadi Director, Internal Client Management di Nielson Consumer Research, New York. Dia anak laki-laki satu-satunya, anak ke tiga dari lima bersaudara. Di rumah kecilnya yang dihuni oleh tujuh orang mereka hidup bahagia, meskipun tidak bisa dipungkiri mereka hidup miskin. Sangat mengharukan ketika sang ibu harus memutar otak untuk menambah biaya sekolah anak-anaknya, entah apa yang dijual, piring, perabotan, semua itu untuk membantu suami yang hanya sopir angkot untuk membayar kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Baruntungnya anak-anak mereka termasuk si penulis memiliki prestasi yang luar biasa di sekolah. Sehingga mereka pun bersekolah di sekolah negeri yang sama. Seperti yang kita tau, sekolah negeri pasti jauh lebih murah dari pada sekolah swasta. Meskipun begitu kesulitan finansial masih terus dirasakan oleh keluarga si penulis. Biaya demi biaya membuat orang tua dan anak-anak mereka sama-sama mencari penghasilan. Semua itu dilakukan untuk hidup, untuk pendidikan. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka (si anak-anak ini) bekerja tapi masih selalu berprestasi di sekolah.

Si penulis, Iwan Setyawan, seorang yang pendiam dan lebih suka menyendiri. Dengan latar belakang keluarganya yang miskin dia sulit bergaul dengan orang lain, apalagi kalau orang itu dari kalangan berada. Tapi dia tidak pernah berhenti bermimpi untuk menjadi bagian dari mereka. Mereka yang sukses, mereka yang terlihat eksekutif. Semasa di IPB dia belajar dengan tekun, didampingin shalat lima waktu dan shalat sunnah. Semua dia lakukan untuk bertahan dan untuk meraih mimpinya. Dia bekerja keras menjadi yang terbaik di tempat kerjanya di Jakarta, menjadi berbeda dengan yang lain. Sampai akhirnya tawaran yang melebihi mimpinya datang. Tawaran untuk bekerja di New York.  Perjalanan yang sangat panjang, kesulitan yang panjang, tapi dengan kerja keras yang sama bahkan lebih. 

Buku ini sangat inspiratif. Bagus sebagai bahan renungan kita semua. Kemiskinan tidak menghalangi kita untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan sebaik mungkin. Asal ada niat, ada perjuangan, ada doa, dan kasih sayang keluarga, kesuksesan bisa kita raih.      
 

Jumat, 09 September 2011

Alasan Dibalik Sebuah Pilihan

Tulisan ini dibuat karena akhir-akhir ini saya sering tercengang melihat orang-orang di sekitar. Seorang teman yang akan berulang tahun saya tanya kira-kira dia ingin dapat kado apa di hari ulang tahunnya. Dan dia jawab dia pengen banget dapat boneka. Oke oke, kalau jawaban ini keluar dari seorang perempuan imut nan lugu nan feminim nan suka malu-malu kucing nan manja nan lembut dan nan-nan lainnya yang menunjukkan dia cewek banget, pasti ini bukan jawaban yang mengejutkan. Tapi ini keluar dari mulut seorang perempuan yang gayanya rocker abis, tampilannya sangar, kalo baru kenal ama orang ini pasti langsung ciut karena takut dibentak. Nah lo, heran ga kalo ternyata dia mengharapkan dikado boneka, dan lebih mengherankan ternyata sepanjang hidupnya dia memang suka mengkoleksi boneka. Oh so cute ternyata. Hehehe.

Satu kasus lain. Saya baru mengenal seseorang. Cewek, kecil, imut, feminim, potongan berponi penuh ala korea gitu, suaranya kecil banget, lembut dan sangat sopan. Sedikit mengejutkan ketika tau dia suka lagu rock yang kenceng yang bagi saya bikin telinga cenat-cenut. Mengejutkan ketika saya tau dia ga bisa nonton film yang ga ada adegan bertarungnya. Lebih mengejutkan lagi ketika saya melihat dia pake celana jeans belel yang bagian dengkulnya sobek-sobek. Saya hampir pingsan dibuatnya. Hehehe.

Dari dua kejadian ini saya bertanya-tanya, "Oh...fenomena apakah ini???"
Ternyata setelah saya renungkan dalam-dalam, memang secara tidak sadar apa yang jadi pilihan kita adalah sesuatu yang bisa menyeimbangkan karakter kita. Teman saya yang bergaya rocker mungkin perlu penyeimbang kelembutan yang bisa dia didapat dari boneka. Boneka melambangkan masa kanak-kanak yang bebas, ceria, dan tanpa tekanan. Mungkinkah ini yang dia cari? Saya sendiri ga ngerti. Kasus kedua, teman saya yang punya poni korea ini, bisa jadi dia juga mencari penyeimbang diri. Karakternya yang kalem butuh sesuatu yang membuatnya berani dan kuat yang mungkin bisa dia dapat dari musik rock, film action, dan jeans belel itu tadi. 

Tapi sekali lagi, perlu saya pertegas itu semua masih kemungkinan, hanya tebakan saya. Karena saya juga memperhatikan diri saya sendiri. Salah satu yang paling dasar saja misalnya warna favorit yang sering kita pakai. Beberapa waktu yang lalu, saya suka sekali dengan warna cerah, condongnya ke warna pink dan merah. Saya suka warna cerah, dan kebetulan seorang teman yang ahli fengshui waktu itu menyarankan saya memakai warna cerah. Karena apa? Dia bilang saya membutuhkan warna cerah karena saya bukan orang yang cheerful. Untuk itulah saya butuh bantuan warna cerah yang membuat saya tampak cheerful atau mungkin warna itu merangsang saya untuk lebih ceria. Waktu itu saya juga suka warna pink, padahal waktu masih kecil saya sangat mengutuki warna ini. Mungkin saja ketika saya menyukai warna pink ini saya sedang mencari penyeimbang diri bagi saya yang waktu itu kurang feminim, kurang berkarakter perempuan. Sedangkan warna merah yang juga saya suka, secara tidak sadar saya gunakan sebagai penyeimbang karakter saya yang pemalu, dan cenderung tidak suka jadi perhatian atau sorotan. Hasilnya, dengan bantuan warna-warna itu tadi saya merasa terdorong untuk memiliki karakter sesuai warna. Dengan warna pink saya merasa lebih peka, lebih perempuan, dan cheerful. Dengan warna merah saya jadi lebih berani dan pede. Setelah saya mendapatkan semua itu, saya berganti warna favorit lain yang saya gunakan sebagai penyeimbang karakter saya yang lain. Misalnya ketika saya sudah terlalu banyak pake warna merah yang bikin saya tidak hanya jadi pemberani tapi juga jadi pemberontak dan gampang marah, tiba-tiba saya menyukai sesuatu yang berwarna biru, warna yang menenangkan. Semua pemilihan warna tidak pernah sengaja, tiba-tiba tanpa disadari.

Intinya dari tulisan ini, kemungkinan apa yang kita pilih entah itu apa yang kita pakai atau kita sukai adalah sesuatu yang secara tidak sadar kita pilih sebagai penyeimbang karakter. Kita tidak pernah sadar kenapa pilih itu, yang kita tau kita suka, titik. Tapi kalo kita pikir lebih dalam lagi, pasti ada alasan yang mendasar kenapa kita memilih sesuatu itu. 

Kamis, 14 Juli 2011

Makan Bakso Pak Djo Petra Manyar gratisss???

Untuk yang suka bakso nih, ikutan aja kuis di radio METRO FeMale. Caranya gampang, buka aja fan page facebook METRO FeMale 88,5 Surabaya. Nah disitu ada note tentang Bakso Pak Djo Petra Manyar. Ada 15 free voucher untuk anda yang beruntung. Langsung saja share mengapa bakso menjadi makanan favorit anda di kolom comment note itu atau di wall, atau twitter @METRO_FEMALE, jawaban ditunggu sampai tanggal 16 Juli 2011, dan pengumuman pemenang tanggal 18 Juli 2011. Bagi 15 orang yang beruntung anda bisa menikmati bakso Pak Djo secara gratis, di cabang yang baru di Ruko Kedungdoro 92 G. Yuk, buruan. Tunggu apalagi, lumayan kan bisa makan bakso enak, gratiss lagi ;D


Untuk lebih mudahnya, langsung saja buka ini ya: Makan Bakso Gratisss :D


After 12 years I Finally Found "Time Limit" by Ringo Hajiri

Beberapa hari yang lalu, terkasih saya ngasih kabar kalo dia berhasil mendapatkan komik yang saya incar-incar dari kelas 6 SD sampai sekarang 4 tahun jadi penyiar. Bagi saya komik ini sangat spesial, judulnya Time Limit, komik serial gitu. Saya ga pernah punya komik Time Limit, komik ini saya pinjam  dari teman, dan ternyata saya benar-benar jatuh cinta. Usaha untuk mencari di toko buku sudah saya lakukan, mulai dari Gramedia sampai toko buku bekas, tapi dari semua toko itu ga ada yang menjual, entah kehabisan atau sudah tidak produksi lagi. Saking jatuh cintanya sama komik ini saya sampe mohon-mohon sama teman untuk bisa memiliki satu seri dari komik Time Limit yang dia punya. Akhirnya, dia pun ngasih saya satu serinya *terharu*. Kejadian itu sudah sangat lama, waktu saya masih SD kelas 6, meskipun begitu saya masih terobsesi mendapatkan seri komplit dari komik Time Limit. Setelah menunggu 12 tahun akhirnya dapat juga. Belum ada ditangan sih, tapi paling tidak buku itu sudah dipesan sama terkasih saya, uuhh jadi tambah cinta, suit suit... ^,^

Time Limit by Ringo Hajiri

Kenapa komik ini sangat spesial bagi saya, satu-satunya alasan adalah komik ini slalu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Meskipun sudah membaca (seri yang saya miliki) beribu-ribu kali, tetap saya masih tertawa seperti baru pertama kali membaca. Komik ini bercerita tentang gadis bernama Nina Onoda, seorang gadis kelas 1 SMA. Ia sederhana, polos dan ada satu kemiripan dengan saya, yaitu suka makan. Hehehe. Nina menyukai kakak kelasnya yang bernama Ogi, karena itulah dia ikut anggota klub ESP. Sebuah klub untuk mereka yang memiliki kemampuan khusus. Di klub itu ada  Ida Okada yang cantik dan menjadi saingan Nina. Ogi menyadari bahwa Nina memiliki kemampuan yang ajaib sehingga ia kagum pada Nina. Meskipun begitu tidak mudah bagi Nina untuk bisa memiliki Ogi seutuhnya, karena saingannya, Ida, selalu melakukan berbagai cara menghalangi mereka berdua. Komik ini bukan hanya sekedar komik cinta-cintaan yang cemen. Justru komik ini sangat amat teramat lucu. Nina, memiliki karakter lucu, kalau jaman sekarang bisa dikata lebay. Si penulis, Ringo Hajiri, pandai membuat gambar ekspresi yang tidak biasa dengan dialog yang sangat menggelitik. Ini adalah komik yang paling lucu yang pernah saya baca, dan satu lagi komik ini juga sangat cerdas.

Ini adalah foto komik Time Limit seri 2 yang saya miliki,

Sudah sangat usang tanpa cover depan, tertulis nama Ayu (nama sahabat SD saya yang memberikan buku ini)
Nina sang tokoh utama ga pernah tahan melihat makanan




Pengenalan tokoh
Salah satu adegan lucu Nina menghabiskan jatah makan malam keluarganya
Cover belakang yang tidak kalah usangnya
Ini seri lengkapnya, yang mau saya beli, saya ambil fotonya dari yang punya toko.
Yang terakhir adalah foto yang saya ambil dari toko yang akan saya beli komiknya. Meskipun sudah tidak sempurna lagi gak papa deh dibeli, saya sudah sangat berhasrat memiliki komik ini. Mengenai harga, ternyata harganya ga murah. Kalau jaman dulu harga satu komik Rp 6.500,00. Berarti kalau 7 seri Rp 45.500,00. Berhubung sekarang komik ini sudah menjadi komik unik dan langka harganya jadi 7 kali lipatnya. Ckckckckc. Mahal sekali. Yah, anggap saja ini harta karun, semakin lama semakin berharga. Siapa tau sepuluh tahun lagi komik ini jadi incaran para kolektor. Pertanyaannya, apakah saya rela melepas komik ini? Hmmm...kayaknya ga deh. hehehe :P


     

Rabu, 01 Juni 2011

Recycle vs Original?

Pertama kali dengerin single yang satu ini saya langsung jatuh hati. Single dari Jennifer Lopez feat. Pitbull dengan judul On The Floor benar-banar mengingatkan saya dengan single jadul yang sering diputar di radio METRO FeMale. Memang sih biasanya saya paling anti dengan single recycle, for me original song is always best. But...yang ini beda, asliii beda. Jlo dengan pandainya hanya mengambil sebagian dari nada lagu lawas milik Kaoma-The Lambada, diracik dengan musik dance modern, dengan sentuhan rap dari Pitbull. Single ini cocok banget rasanya bagi saya, pecinta single oldies tapi masih pengen eksis di jaman modern ini. Perpaduan antara jaman dulu dan jaman sekarang inilah yang membuat single ini benar-benar berasa spesial bagi saya. Yuk kita dengerin aja dulu singlenya Jennifer Loper feat. Pitbull with On The Floor (kita akan bandingkan paling enak yang mana dengan single lama milik Kaoma-The Lambada)


Pengen tau single asli yang dicontek Jennifer Lopez sebagai single terbarunya? Single bahasa Portugis dengan aksen Brazil ini merupakan single classic dance dengan irama samba. Sangat fenomenal karena sempat menjadi hit nomer 1 di seluruh dunia. Here they are.... video of the worldwide #1 smash hit record from 1989, Kaoma with The Lambada.

  
Dengerin dua single tadi sama-sama bikin goyang ya. Dengerin singlenya Jlo serasa hidup dijaman sekarang, dengan musik dan video klip yang modern. Dengerin singlenya Kaoma serasa hidup di jaman bahula, dengan musik yang belum "tercemar" dan video klip yang asoy oeiiiyy. Apalagi liat dua anak kecil  cewek cowok itu, si item dan si putih yang tingginya ga imbang (lebih tinggi ceweknya, hehe ) mereka menari-nari layaknya orang dewasa. Anyway tarian mereka keren looh, two thumbs up deh. 

Masih ngomongin dua anak kecil si item dan si putih yang menari-nari itu, ternyata ada lanjutan ceritanya loooh. Ternyata dua anak ini sekarang sudah dewasa dan ketemu lagi. Mereka bertemu di video klip Don Omar-Taboo. Single yang juga menjadi original soundtrack of Fast Five Movie ini adalah single ke tiga dari album kolaborasi Don Omar "Meet the Orphans" yang rilis pada tanggal 24 Januari 2011. Nah penasaran kayak apa  cerita lanjutan dari dua anak kecil yang menari-nari di video klipnya Kaoma? Ini dia The Lambada in Spanish by Don Omar with Taboo. 


Nah, udah lihat ketiganya kan? Mana yang paling disuka? Kalau videonya sih saya suka yang versi Don Omar, soalnya ada Vin Diesel, liat dia jadi klepek-klepek, hehehe. Tapi kalau musiknya sih saya pilih yang versi Jennifer Lopez. Let's Get On The Floor With A New Generation Of Party People!!! ^_^

Sabtu, 21 Mei 2011

I'm Banci Insomnia

"Feels like insomnia ah ah, Feels like insomnia ah ah... Feels like insomnia ah ah (Ah), Feels like insomnia ah ah..." *Craig David-Insomnia*

Akhir-akhir ini lagu Craig David - Insomnia sangat akrab ditelinga saya, selain sering diputar di radio-radio (termasuk radio saya) lagu ini juga jadi sountrack bagi "kehidupan" saya di malam hari. Gimana tidak, saya lebih banyak ga bisa tidurnya dari pada bisanya. Ga bisa tidur atau insomnia sangat amat ga nyaman . Badan rasanya capek, pegel, pikiran kemana-mana, pokoknya stres abis deh. Makanya kalau saja ada kesempatan bisa tidur nyenyak, pagi hari begitu mata saya melek saya langsung joget-joget kegirangan. Wkwkwkw. :D

Gimana sih supaya bisa rutin tidur nyenyak? Itu yang slalu saya cari selama ini. Pernah sempat menemukan solusinya, dengan cara menaruh bunga sedap malam dalam kamar. Dan sebelum tidur dalam kondisi lampu kamar mati, saya mulai memasang musik alam, kicauan burung, suara hujan, suara kodok, semua bercampur menjadi musik yang penuh harmoni. Sambil menikmati musik dan memejamkan mata, saya berdoa dan menghirup dalam-dalam aroma bunga sedap malam yang ada di kamar, percayalah... rasanya benar-benar rileks dan damai. Semenjak itu saya jadi ga insomia lagi. Tapi..... bagaimana mungkin saya melakukan kegiatan itu sepanjang hayat. Hari terus berganti, saya mulai tidak sempat lagi membeli bunga. Musik alam pun sudah saya lupakan, dan hasilnya... insomnia is BACK.

Saya coba cara lain. Menurut artikel yang pernah saya baca dan saya share ke pendengar, cara mengatasi insomnia adalah mencari tau akar masalah. Apakah kita sedang stres dalam hubungan dengan seseorang, ataukah masalah pekerjaan, atau masalah keuangan, itulah yang harus kita cari tau dan harus segera ditangani. Oke, saya mulai merenung. Apa yang jadi masalah saya. Cinta? Bukan. Keluarga? Bukan. Keuangan? Bukan. Pekerjaan?... nah itu dia! Ternyata saya menyadari bahwa akhir-akhir ini saya menjadi seseorang yang sangat terobsesi dengan karier. Saya yakin benar, ini gara-gara artikel yang saya baca yang membuat saya tiba-tiba berubah jadi satria baja hitam orang yang penuh obsesi. Satu-satunya kalimat yang paling saya hafal dari artikel yang saya baca itu (yang bikin saya banci insomnia) adalah “Excellence is sooo….cool! Let’s punish mediocre success” ( The Little Big Things by Tom Peters). Nah artikel yang ngomongin ke-excellence-an ini lah yang seharusnya bertanggung jawab atas insomnia saya. 

Tapi weitsss.... gara-gara artikel itu juga (meski saya menderita insomnia) saya jadi lebih berbuat banyak hal positif. Terutama dalam hal pekerjaan. Tapi tetep saja dong masalah insomnia tidak boleh dilupakan begitu saja, apalah artinya pekerjaan bagus tapi badan sakit-sakitan?. Pacar saya pernah menyarankan saya harus meluangkan waktu untuk bersantai. Menghindari ketegangan yang akan dibawa ketika tidur. Saya mikir, bersantai apa yang dimaksud?. Selama ini saya menamai waktu bersantai ketika... Satu, baca novel dengan cerita berat dan menginspirasi (yang malah membuat saya memikirkan banyak hal yang akan saya lakukan). Dua, nonton tv tapi bukannya acara humor malah nonton berita atau acara debat politik (yang bikin kepala saya beratnya bertambah 7 kilo). Tiga, bermain sudoku (yang malah bikin otak saya cenat-cenut). Empat, main game (yang ternyata bikin tangan dan leher saya kaku sekaku balok es). Hmmm...memang sepertinya ada salah kaprah mengenai arti bersantai bagi saya. Saya bisa-bisa tidak lolos ujian nih gara-gara ga tau arti bersantai.

Masalah insomnia ini masih berlanjut, meskipun tidak separah kemaren-kemaren. Dan tadi malam, saya benar-benar merasakan kedamain gara-gara bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun saya tidak tau alasan tepatnya kenapa. Mungkin ini gara-gara nyokap abis bersih-bersih kamar saya. Sentuhan tangannya yang lembut tersisa dalam semua barang yang ada di kamar saya. Jadi saya merasakan kedamaian sentuhan nyokap tercinta yang membuat saya tidur dengan nyenyak. 

Well, karena saya mau makan bakso, kata terakhir dari saya, tips untuk kalian yang punya insomnia, dari orang yang punya insomnia, 

Just enjoy ur life! Don't be so cruel with ur self!  


NB: I'm fail, anyway. My bakso is so so spicy. So cruel with my self. Hiks.










Senin, 16 Mei 2011

Ke Pasar Malem Tcap Toendjoengan Beli Lontong Kupang

Udah pada ke Pasar Malem Tcap Toendjoengan blom???


Minggu sore seusai siaran saya menghabiskan waktu disana, katanya sih malam terakhir, jadi harus dateng nih. Tapi setelah pulang dari sana saya dapat kabar dari temen kalau acaranya diperpanjang sampai satu minggu ke depan, jiiiiaaaah...padahal duit dah abis buat ngeborong jajanan malam itu juga. Hiks hiks. Tenang...tenang.... masih ada dana cadangan.

Tadi malem merupakan malam kedua kalinya saya ke pasar malam yang ada di samping SOGO itu. Alasan dateng kesana satu-satunya cuma pengen makan lontong kupang. Malam pertama makan lontong kupang, malam kedua lontong kupang lagi. Abis enak sih. Dah pernah makan lontong kupang blom? Coba deh. Rasanya enak banget. Tapi ada juga sih yang ngerasa aneh dengan makanan yang satu ini, ada juga yang ga tawar, bisa-bisa sakit perut. Untuk itulah disarankan minum kelapa muda setelah makan lontong kupang. 


Makan lontong kupang jadi inget masa kecil saya. Saat pertama kali mencoba makanan khas Surabaya ini saya agak ogahan, apalagi liat betuknya yang aneh, kecil-kecil dan banyak. Tapi entah ini konyol atau kreatif nenek saya menambahkan daging kepiting dalam kupang lontong. Karena saya suka daging kepiting akhirnya saya mau ketika disuapi lontong kupang plus irisan daging kepiting. Padahal kupang lontong dicampur kepiting ga ada dalam sejarah. Tapi sejak itulah saya jadi jatuh hati dengan lontong kupang. Bertahun-tahun kemudian saya tidak pernah lagi merasakan lagi nikmatnya lontong kupang. Entah karena lupa atau karena lontong kupang hanya ada di daeran nun jauh disana (dekat pantai kenjeran) yang males susah saya jangkau.  Sampai suatu ketika, saat saya menghadiri peresmian gedung baru di salah satu rumah sakit di Surabaya, saya melihat ada lontong kupang disana yang mampu bikin saya ngiler waktu mengantri. Dan ketika saya makan, hmmm...enak tenan. Tanpa rasa malu saya ampe nambah dua kali! Nah itulah terakhir saya makan lontong kupang sebelum ke Pasar Malem Tcap Toenjoengan.

Saya dan suapan terakhir lontong kupang di pasar malam, 

Setelah kenyang makan lontong kupang plus sate kerang dan minum es degan, saya dan teman-teman langsung cabut buat liat atraksi di panggung pasar malam. Wah ada atraksi keren yang bikin saya merinding. Sekelompok pria dewasa dengan dandanan yang seram, wajah merah, mata melotot, berkumis tebal, dengan kancing baju hitam yang dibiarkan terbuka. Sangar, menakutkan, tapi itulah seni dari tarian reoq. Setelah tampil beberapa tarian lainnya dan atraksi menyeramkan, tampillah yang sudah saya tunggu-tunggu, Reog. Waktu kecil saya paling suka liat reoq, malah dulu saya pernah request ke nyokap kalo kakak menikah saya ingin mereka bikin pertunjukan reoq, alhasil kakak saya jingkrak-jingkrak jijaj dengan ide innocent konyol saya.


Lanjut setelah nonton atraksi yang disajikan oleh pasar malam, saya dan teman-teman jalan-jalan mengitari jajanan yang ada disana. Ada tahu pong, sebenarnya ga terlalu kepengen tapi koq ya pengen beli, akhirnya belilah saya satu porsi dimakan sambil jalan melihat jajanan lainnya. Ada juga coklat asli Surabaya loh namanya Suoklat (Suroboyo Coklat), ini dia stannya: 


Foto-foto yang ditampilkan kurang mengesankan, wajar saja saya pake kamera hp. Ga bawa kamera beneran karena awalnya emang ga ada planning.
Disamping stan Suoklat ada terang bulang mini yang imut dan lucu, 

Sewaktu saya dan teman-teman lewat di depan stan terang bulan ini pramusaji menawarkan tester terang bulan, dan ternyata emang enak banget. Akhirnya belilah saya satu porsi terang bulan 7 rasa.






Foto terang bulannya blur, payah nih yang ambil gambar, but don't judge a taste by its picture!!! Karena percayalah rasanya super duper enak. Dibandingkan dengan harganya yang hanya Rp 10.000,00, terang bulan ini terhitung murah karena rasanya yang terlalu enak. Masih di tempat yang sama, saya tergoda dengan jamur crispy yang sempet saya cicipi dari displaynya (padahal ga untuk dicicipi, tapi cece nya baik hati, saya diambilin satu biji, padahal pengennya dikasih ngicipin satu bungkus) hahaha.


Gambar diatas jamur crispy yang saya cicipi, padahal itu bukan tester tapi makanan yang dibuat display, wkwkwkw :D

Setelah kenyang, nonton tarian reoq, dan puas mborong jajanan, saya dan teman-teman memutuskan pulang. Sudah malam, besok harus kerja nih. Di rumah, lanjut menikmati jajanan yang saya beli di Pasar Malam Tcap Toenjoengan. Sering-sering aja deh ada acara kayak gini. Seru!

Rabu, 11 Mei 2011

NARS Surabaya???

Hai ladies,
ada yang tau kenapa nama Surabaya ada di produk kosmetik NARS?
Beberapa bulan silaaaaam ("a" nya banyak karena dah terlalu lama, hehe) pacar saya cerita tentang produk kosmetik yang namanya unik, sama dengan nama kota saya, Surabaya. Saya kaget, bukan...bukan.., bukan karena nama kosmetik yang namanya unik itu, tapi karena pacar saya yang koq bisa-bisa nya tau tentang kosmetik dari pada saya yang perempuan. Ini benar-benar penghinaan!!! Hehehe. Baiklah, barusan saya bohong, karena sebenarnya saya lebih kaget dengan nama kosmetik itu, NARS Surabaya. Mengenai pacar saya bisa tau produk itu, yaaach...dia sih apa yang ga tau. Selama berpacaran dengannya, dialah mesin google saya. Hehehe.

Oke, lanjut.
Sebenarnya saya penasaran mengapa nama Surabaya masuk sebagai nama varian duo eyeshadow milik NARS. Jakarta apa kabarnya ya?. Kenapa pemberian nama itu tidak mempertimbangkan kota terbesar di Indonesia ini, yang sudah pasti lifestyle nya lebih bagus dan maju dari pada Surabaya yang merupakan kota terbesar ke dua setelah Jakarta. Bukannya saya tidak membanggakan kualitas lifestyle orang Surabaya sih. Tapi ya karena saya warga kota Surabaya, saya tau pasti kita tidak segitunya. Kalaupun ada ya, mungkin tidak sebanyak kota Jakarta. Surabaya lebih "rileks" dalam menanggapi sesuatu.

But anyway,
Saya bangga sekali NARS memilih nama kota Surabaya untuk kosmetiknya. Kota tercinta saya ini disetarakan dengan Tokyo dan Paris yang juga ada di listnya. Dan sebagai warga Surabaya harusnya kita mendukung kosmetik ini, dengan cara memborong semua produknya (meskipun saya ga yakin akan melakukannya). Hehehe.


Ini foto yang saya ambil dari majalah InStyle.



NB: Kalau saya boleh usul, bukan hanya nama Surabaya yang di usung, tapi juga lambang kota Surabaya, Suro dan Boyo. Setuju?!? ^_*
 

blush ON blush Copyright © 2015 -- Powered by Blogger